Wednesday, November 29, 2006

H. IWAN SURYAWAN, S.SOS.
ANGGOTA DEWAN JUGA MANUSIA

Banyak kisah unik dalam membentuk karakter manusia sebelum ia menemukan jati dirinya. Iwan Suryawan punya kisah unik itu. Ia mengaku, sejak kecil ibunya sering memberikan perlakuan khusus. Khususnya dalam hal amanah.
“Ibu saya seorang penjahit”, kenang putra ketiga dari enam bersaudara pasangan A. Rozak dan Eti sumiati ini. Sejak kecil ia dipercaya sebagai asisten ibunya. “Tugas saya, membeli peralatan menjahit mulai dari benang sampai mengobras,” ujar suami Santy Yulia, S.Pd ini. Ia juga sering diminta oleh sang ibu untuk mengantarkan hasil jahitan kepada pelanggan. “Hikmah yang saya ambil ketika menjadi ‘asisten’ ibu yaitu saya lebih sering melayani orang lain. Tentunya pelayanan kepada konsumen, karena konsumenya sangat banyak dan beragam,” papar Iwan. Bahkan, dirinya pernah dipanggil ‘obras’ oleh teman-teman bermainnya karena sering mengantarkan obrasan pakaian hasil jahitan ibunya.

Menurutnya, ini merupakan proses dalam pembentukan karakter dirinya. “Inilah salah satu yang dapat membentuk keperibadian saya,” imbuhnya
Hikmah lainnya, dengan cara demikian, Iwan dapat membentuk ketaatan pada orang tua. “Selain itu sejak menjadi asisten ibu, saya lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, sehingga banyak kenal dengan beragam orang dan belajar bermuamalah,” ujarnya.
Lucunya, sampai sekarang ia justru banyak dikenal ibu-ibu. “Banyak orang tua menganggap saya sebagai anaknya. Hal ini tidak lepas karena kedekatan saya dengan orang lain,”tambah Iwan.

Ketika menjalani hidup, tak pernah sama sekali terbayang dalam benaknya, apalagi bercita-cita menjadi anggota dewan. Tapi kalau sudah menjadi keputusan Syura’ harus saya laksanakan. Ia pernah dihadapkan pada dua pilihan hidup : kuliah atau pesantren. “Setelah berpikir matang-matang akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan kuliah bukan nyantri. Sebab waktu itu mungkin melalui kuliah saya akan mendapatkan baik ilmu dunia dan akhirat melalui pendalaman nilai-nilai keislaman sekaligus. Itu pemikiran saya dulu ketika baru tamat SMA. Alhamdulillah, ternyata Allah mengizinkan saya untuk kuliah,” kenang Iwan. Ia diterima kuliah di Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat melalui jalur Sipenmaru.

Hal yang tak pernah ia duga, ketika di Bogor ia punya kelompok bermain yang cukup solid. Hanya karena kehendak Allah, akhirnya ia bisa bertemu dengan teman-yemannya itu di Pontianak. “termasuk pertemuan saya dengan istri. Meskipun istri saya berasal dari Bogor dan ke Pontianak pun dalam rangka kuliah, tapi Allah menjodohkan kami di Pontianak,”ujar Iwan sambil tersenyum mengenang masa-masa indahnya itu. Ia menikah di Bogor dan setelah itu kembali lagi ke Pontianak karena waktu itu istrinya belum tamat kuliah.

Pada tahun 1989, ketika baru berada di Pontianak, Iwan termasuk transmigran pendidikan. “Di sana saya kuliah ambil jurusan Administrasi Negara. Disinilah banyak ditemukan sebuah paradigma untuk membangun kehidupan yang baru. Orang Melayu bisa bertemu dengan orang Sunda dengan sebuah ikatan akidah agama. Kita termasuk orang yang pertama menyebarkan mentoring kampus di sana,” ujar Iwan.

Pada tahun 1996, ia kembali lagi ke Bogor. Sejak 1994, sebenarnya Iwan sudah selesai kuliah. Tapi karena harus menunggu istri menyelesaikan studinya, ia pun menetap di Pontianak selama dua tahun.
Selama masa penantian itulah Iwan mengasah potensi bisnisnya. “Saya sempat jadio pedagang. Kita melakukan apa saja yang penting halallan toyiban. Pokoknya manis pahit kehidupan hanya saya dan istri yang merasakan, orang tua di Bogor pokoknya terima rapih aja,” kenang pria Kelahiran Bogor, 14 Mei 1970 ini.

Waktu itu Iwan ditawari membangkitkan kembali sebuiah Toko Buku yang sudah bangkrut. “Namanya Toko Buku Pustaka Kamal. Memang kalau diukur dari segi finansial sangat minim, tapi saya fikir ini merupakan langkah awal dalam memulai usaha,” ujar Iwan. Ia bersyukur, beberapa tahun kemudian toko tersebut maju bahkan penjualannya samapai ke kota Kuching Malaysia. “Bahkan saya sempat dikenalkan dengan orang keturunan Arab yang mengajak berdagang dengan sistem tidak laku bisa dibalikin dan tanpa modal, dari situlah saya pun mulai menekuni profesi baru yaitu jadi pedagang,”kenang Iwan.

Untuk alat transportasi, Iwan sengaja membawa sepeda ke Pontianak. “Sepedanya saya modif dengan ditambahkan jok Vespa sehingga kalau mau ke toko buku saya sering ngajak istri dan anak pertama saya boncengan kaya di filmnya Galih dan Ratna tea, ujar Iwan. Disamping itu ia juga sempat mengajar di MTs Al Irsyad di Pontianak dan Staf Pengajar di STIE Bina Niaga Bogor.

Iwan mengaku, mungkin potensi bisnisnya itu ia warisi dari kedua orang tuanya. “Kedua orang tua saya berasal dari Tasikmalaya. Katannya sih, orang Tasik itu jago dagang dan dikenal ulet. Nah, seperti tukang kredit, sepatu, pakaian, bordir itu banyak dari Tasik. Tapi Bapak saya bekerja di RRI (Radio Republik Indonesia, red) Bogor, Ibu yang menjiwai darah dagang orang Tasik,”ibuh mantan Ketua DPD Partai Keadilan dan Partai Keadilan Sejahtera Kota Bogor tahun 2001-2006 ini.

Ada sifat khusus yang ia teladani dario sang ayah. “Beliau itu pemahaman agamanya bagus dan sifat sabarnya. Ayah saya orangnya pendiam,”ujar Iwan. Nah sifat itu sedikit banyak menurun dalam dirinya. “Kalau sedang marah, saya bersikap diam, kadang-kadang pelampiasannya saya mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga,” imbuh Iwan yang menyelesaikan SD-nya di Bubulak I dan SMPN 3 Bogor ini.

Ada sebuah prestasi yang tak pernah ia lupakan ketika SD. Iwan pernah mewakili sekolah untuk pemilihan pelajar teladan se Bogor dan Juara Lomba Tingkat I (LT I) Pramuka se Bogor, pemain terbaik pada sebuah turnamen sepakbola anak-anak di kampungnya.
Ketika melanjutkan, baik pendidikan SMA 5 Bogor, Iwan sudah terbiasa menjalin hubungan sosial, termasuk dengan guru. “sampai sekarang, saya tetap menjalin hubungan dengan mereka,” tambah Iwan.

Setelah sang istri menamatkan studinya, pada tahun 1996, Iwan memboyong keluarganya kembali ke Bogor. “Bersama teman-teman lainnya, saya bergabung di Yayasan Annizarriyah Bogor” ujar Iwan yang mengaku sejak dulu jalan hidupnya berbeda dengan saudaranya yang lain. “Saya yang pertama kali menikah meski saya anak ketiga dari enam bersaudara dan yang terjun ke dunia politik ,” ujar Iwan yang aktif diberbagai organisasi Olahraga seperti PSB Bogor, Bandung Karate Club dan Hockey.

Bergulirnya roda reformasi, membuat para aktivis pergerakan ”terpaksa” harus melek politik. ”Setelah berdirinya Partai Keadilan, kita memahami kerja politik seperti kita kerja di yayasan, bekerja dengan sistem homogen,” kata Iwan. Ia merasa ketika duduk di DPRD, sistemnya sangat berbeda. ”Di sini dengan sistem heterogen. Kita harus berkomunikasi dengan berbagai karakter dan berbagai latar belakang, baik budaya mupun kultur,” tambahnya.
Iwan Suryawan sempat dua kali terpilih sebagai Anggota Dewan. Menanggapi kiprah Anggota Dewan periode sekarang dengan periode lalu (1999-2004), akar masalahnya adalah aturan main pada situasi perpolitikan yang berbeda. ”Pada periode lalu dan diperiode sekarang kita punya style yang berbeda,” tandasnya.

Ada kejadian yang menarik. Ia dan kawan-kawannya pernah dimusuhi banyak pihak. Ketika melaksanakan aktivitas kemasyarakatan, orang mendoakan yang jelek yang meminta Allah untuk tidak menerima amal ibadahnya. ”Padahal kita membela masyarakat. Waktu itu Dewan mendapatkan dana operasional dengan nominal 30 juta per orang. Akhirnya uang itu kita kembalikan kepada masyarakat dengan jumlah total Rp. 90 Juta. Yang tidak senang dengan kita mereka samapai mendoakan yang jelek. Mereka merasa dizalimi,” papar Iwan.

Menurutnya, langkah-langkah yang dulu dilakukan baru terasa imbasnya sekarang. ”Banyak pengakuan dari mereka yang dulu tidka setuju, sekarang membenarkan kinerja kita,” ujarnya.
Ia berharap, sebagai Wakil Ketua DPRD, bisa mendesain DPRD bersama Pimpinan DPRD lainnya. Di antaranya melahirkan produk-produk yang lebih memihak kepada masyarakat. Menurutnya, kinerja Dewan sekarang dan pola kerjanya lebih teratur. Hal ini menurutnya tak bisa dilepaskan begitu saja dengan jumlah aleg PKS yang lebih banyak dibanding periode sebelumnya. ”kalau dulu kita yang diatur, sekarang kita sudah bisa memberikan kontribusi terhadap perbaikan kinerja DPRD Kota Bogor yang lebih baik,” tandasnya.

Yang paling mendasar bagi Anggota Dewan sebenarnya adalah walaupun ia berasal dari berbagai Partai Politik, namun apabila sudah menjadi Anggota DPRD ia harus melepaskan kepentingan pribadi dan golongannya menuju pada kepentingan masyarakat Kota Bogor. ”Siapa pun yang menjadi Wakil Rakyat di legislatif nanti harus dapat bekerja secara team work tanpa harus membedakan dari partai mana mereka berasal,” tutur Pria yang sekarang aktif juga di Komite Penanggulangan AIDS Daerah.

Menurutnya, egoisme yang mengedepankan kepentingan partai justru akan mengacaukan lembaga terhormat tersebut. Apalagi kalau Anggota Dewan itu hanya mengutamakan kepentingan pribadi. Dengan kata lain, kepentingan rakyat harus diletakkan di atas kepentingan partai dan pribadi. ”Kami yakin jika Angogta Dewan hanya mementingkan golongannya sendiri, lembaga tersebut akan menjadi kacau.

Hal penting lainnya adalah agar anggota dewan melaksakan kerja sesuai dengan kewenangan dan fungsinya pada fungsi Legislasi, Budgeting dan Controlling. Angota dewan jangan menjadi pelaksana kegiatan Proyek yang menjadi kewenangan Eksekutif, cukup sampai mengawasi pelaksanaannya agar hasilnya sesuai dengan rencana dan tidak terjadi adanya penyimpangan. Bayangkan kalau anggota Dewan turut serta dalam kegiata Proyek tersebut maka akan sulit melakukan penilaian dan pengawasan secara baik.

Satu hal yang masih mengganjal dan dirasakan adalah bahwa opini masyarakat terhadap Anggota Dewan yang masih negatif, hal ini terjadi karena adanya potret kurang baik terhadap perilaku Anggota Dewan. Hal ini harus diterima sebagai cambuk dan evaluasi bagi perbaikan perilaku ndan kinerja Dewan. Oleh karena itu, Anggota Dewan juga perlu mendapatkan nasehat agar mereka tetap terjaga dalam mengemban amanah. Anggota Dewan juga bukan dewa atau Sinterklas yang memiliki segalanya, ”Dewan memiliki keterbatasan karena Dewan juga manusia”. Untuk itu sebenarnya jadi Anggota Dewan bukan merupakan kebanggaan karena jabatan, justru ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak di yaumil akhir dihadapan Allah SWT. ”Makanya ketika bertemu dengan masyarakat, saya lebih senang datang untuk menerima masukan. Saya hanya bisa menyampaikan apa yang telah saya lakukan. Saya tak mau mengumbar janji karena saya takut di hari kiamat nanti ditanya oleh Allah. Prinsip saya, lebih baik ditanya dan ditegur oleh masyarakat dulu daripada ditanya Allah dan tidak bisa mempertanggung jawabakan perbuatan kita di dunia,” ujar Iwan.

Thursday, August 03, 2006

IWAN ON AIR

bersama wakil ketua II dan reporter Megaswara FM, berdiskusi tentang rencana pengadaan Bus 3/4 di Kota Bogor pada Bulan November 2006





IWAN SURYAWAN
BICARA HIV DI MOS SMP


Sosialisasi tentang pencegahan penyebaran HIV/AIDS terus digencarkan di kota Bogor. Setelah dibentuknya Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) di Kota Bogor, sosialisasi semakin gencar disosialisasikan hingga ke tingkat remaja SMP. Salah satu bentuknya adalah dengan mengagendakan pengarahan tentang pencegahan virus HIV/AIDS dalam program MOS di sekolah-sekolah di Kota Bogor. Sebagaimana yang telah dilakukan di SMAN 1 Bogor, SMK Tri Dharma 2 dan 4, dan di SMP Rimba Teruna.

Bahkan di SMP Rimba Teruna, pengarahan tentang pencegahan HIV/AIDS langsung dilakukan oleh para pejabat Kota Bogor yang tergabung dalam Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Bogor. Hadir diantaranya Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Iwan Suryawan. ”Sosialisasi di MOS SMP ini merupakan gebrakan baru guna menekan penularan HIV/AIDS sampai seks bebas di kalangan remaja di kondisi saat ini dimana HIV/AIDS sudah menjadi epidemi. Tiap enam detik satu orang menderita HIV/AIDS”, ujarnya pada wartawan Radar Bogor yang meliput acara tersebut.

Lebih lanjut wan menjelaskan bahwa memang perjalan sosialisasi ini harus kreatif dan komtinu dilaksanakan. ”Kami saat ini sudah menyelesaikan rencana strategis untuk menanggulangi masalah ini. Sosialisasi MOS sebagai langkah awal”, ujarnya.(*)

Laku lampah iwan suryawan tea...
My Family
36 tahun yang lalu tepatnya tanggal 14 Mei 1970 seorang bayi mungil nan lucu menggemaskan terlahir dengan nama Iwan Suryawan di sebuah kota yang sejuk indah dan nyaman yaitu Bogor kata orang tuaku tepatnya di Sempur. Oh ya Bapakku adalah karyawan RRI Regional II Bogor A. Rozak namanya, beliau orangnya sabar, gemar olah raga dan kalau marah diem tapi kalau sudah tak tahan ya keluar juga amarahnya. Dari Ayahandaku lah aku belajar segalanya tentang kehidupan dan tak kalah pentingnya bagaimana peranan ibuku mendidik dan membesarkanku dengan sabar... ya ibuku Eti Sumiati namanya. Aku anak ketiga dari 6 bersaudara kakakku yang pertama Yedi Sabaryadi dia sekarang kerja di Departemen Perindustrian, yang kedua Erri Setiarri beliau ini dilahirkan dan kerjanya di Kantor RRI Bogor makanya namanya eRRI kata ibuku beliau lahir kaborosotan di kantor he...he.... adiku Mira Dewi Ratna Wati lulusan Agribisnis IPB ini keahliannya di bidang Tarik Suara alias nyanyi, ketika masih gadis sering mengikuti lomba-lomba ya lumayan juga ada beberapa piala yang dapt diraihnya, namun setelah menikah nyanyi sebatas di rumah aja... lain kalau saya jagonya nyanyi hanya di kamar mandi he...he... ada 2 adikku yang lain adalah Ajeng Rosana dan Mega Muwardi. Ajeng prestasinya yang menonjol justru di bidang baris berbaris waktu SMAnya dia jadi Anggota Paskibraka Kota Bogor sekarang jadi Ibu rumah tangga, sementara Mega Muwardi atau yang lebih akrab dipanggil Ayi anak bungsu yang satu ini sekarang tinggal di Bandung. Oh ya semua telah berkeluarga.... itulah keluarga ku...

Lakulampah iwan dalam sekolahne...
Sepak terjang dalam bidang pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar.... oh ya saya tidak merasakan nikmatnya bangku Taman Kanak-kanak seperti kakak dan adiku kasian ya... Sekolah Dasar Bubulak I di Tanah Sareal aku masuki pada tahun 1976 jarak dari rumah cukup jauh pada waktu itu karena belum ada angkot seperti sekarang... aku lalui dengan berjalan kaki atau mancal becak he... he.... berebut dengan teman-teman mencari tumpangan becak untuk pulang....
Dalam masalah akademik secara jujur ya...nilai mah cukup untuk naik kelas aja, walaupun pernah juga merasakan jadi wakil sekolah untuk pemilihan Pelajar Teladan se Bogor, waktu itu Aku duduk di Kelas 5 di testnya di SDN Papandayan. Dalam kegaiatan ektrakulikuler Aku aktif di Pramuka dan pernah mengikut LT I di Kawungluwuk alhamdulillah juara I lho... di bidang Olah raga pernah juga mewakili untuk 2 cabang olah raga yaitu Badminton dan Tenismeja dalam Porseni tingkat SD se Bogor tapi ini tidak menjadi juara cukup pengalaman aja jadi atlit.